Selasa, 12 Juli 2016

Fantasy Binal Istriku

“Tok..tok..tok..!!” Terdengar ketukan dipintu depan. Istriku yang duduk di sofa segera bangkit dan berjalan untukmembukanya.”Eh, kamu!” sapa istriku ketika tahu siapa yangdatang. “Pap,ini Rian,” istriku memberitahu.“Ohh.. suruh masuk!” jawabku dari dalam.Tidak berapa lama kemudian,Rian masuk dan menyalamiku, sementara istriku memanggil ketiga anak kami dan memberitahukan kepada mereka tentang kedatangan Rian. Dua anakku langsung berhamburanmemeluknya, hanya anakku yang pertama yang kelihatan tidak begitu antusias. Keluarga kami memang sangat akrab dengan Rian, dia merupakan salah seorang mantan stafkusaat aku bekerja di kota C.Sekarang kami sudah pindah ke kota B yang jaraknya 6 jam perjalanandari kota C, dan baru kali ini kami berjumpa lagi sejak terakhir kali Rian mengunjungi sekitar 8 bulan yang lalu.


Saat malam mulai tiba, aku dan istriku mengajaknya makan di luar. Ketiga anakku kami tinggal di rumah bersama kedua pembantu. Kami berangkat menuju sebuah restoran seafood yang paling terkenal di kota B dengan suasana pinggir pantainya yang nyaman. Selesai makan, kami bertiga ngobrol-ngobrol tentang masa lalu. Terkadang kami bercerita tentang kejadian-kejadian konyol yang kami alami saat masih satu kantor. Perbedaan antara pimpinan dan bawahan tidak terlihat di antara kami, yang ada malah kami seperti sahabat lama yang baru saja berjumpa.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika aku dan istriku
mengajak Rian minum di LCC, sebuah tempat hiburan malam yang letaknya di
lantai dasar Hotel BS. Tempatnya tidak terlalu ramai, namun
suasananya cukup nyaman untuk menjadi pilihan bersantai dan mencari hiburan. Aku dan istriku memang sering ke LCC, selain suasananya
nyaman, lampu yang redup membuat kami merasa aman karena tidak mudah orang
mengenali kami saat berada disitu.


Suara music dari Band yang membawakan lagu-lagu TOP Country menggema di setiap sudut ruangan. Jack Daniels dan Coca-cola  menemani kami
menikmati suasana Pub yang cukup gelap dan udara yang terasa dingin. Waiters menuangkan Jack Daniels campur Cola ke
gelas yang telah disiapkan, lalu mempersilahkan kami
untuk minum. Sekali tenggak, semua minuman di gelas langsung habis.. sehingga istriku
berinisiatif untuk menuangkan kembali minuman ke dalam gelas.
Demikianlah kami menikmati suasana malam Sabtu sehingga tanpa
kami sadari sudah dua botol Jack Daniels kami habiskan bertiga dan kami jadi benar-benar mabuk
Jam sebelas malam, Band digantikan oleh DJ. Suara house music mengiringi liukan Sexy Dancer di atas panggung.
Para pengunjung pun mulai turun ke Dance Floor.

Istriku berbisik, “Turun yuk?!” katanya sambil menarik tanganku..


“Boleh… Rian kita ajak juga ya?!” jawabku, dan kami pun turun ke dance floor.
Pengaruh alkohol membuat istriku agak kehilangan kontrol, dia
mulai melakukan tarian erotis mengikuti dancer di atas panggung dengan menjadikan badan Rian sebagai sandaran. Sementara Rian tampak canggung mengimbangi tarian istriku. Hal ini memang biasa dilakukan oleh istriku
saat mabuk berat.
Sedangkan aku berjoget ringan, sama sekali tak peduli dengan
tingkahnya.
Sekitar jam dua
belas, muncul keinginanku untuk
menunaikan hajat yang tidak bisa kutunda. Aku pun berpamitan kepada istriku dengan berbisik,
“Aku ke toilet sebentar,” kataku.

”Ok.” jawab istriku singkat.



 Aku pergi ke toilet
dan cukup lama aku berada di sana. Memang sudah menjadi kebiasaanku, sambil membuang hajat, kadang aku memainkan games di HP sehingga tak kurang dari
setengah jam aku menghilang.
Baru setelah itu aku kembali ke Pub.
Di dance floor, Rian dan istriku tidak kutemukan. Aku pun menuju ke table yang tadi kupesan, tetapi disana pun kosong sehingga aku
menyapukan pandangan ke segala arah. Suasana yang cukup gelap
menyulitkanku untuk menemukan mereka berdua.

Maka aku memutuskan untuk berkeliling. Kuputari seputaran pub sampai akhirnya mataku tertuju kepada seorang wanita yang dipeluk dari belakang
oleh seorang pria di pojok yang lebih gelap dari area lainnya. Dari pakaian
putih yang dikenakan oleh
perempuan itu dan pantulan bodinya yang bercahaya ketika
terkena sorot lampu
Disco, aku bisa memastikan kalau itu adalah istriku, dan sang pria
tiada lain adalah Rian.


Perasaan curiga dan cemburu mulai hinggap di dada; bagiku tidak masuk akal mereka mmeninggalkan meja saat aku tidak ada. Namun
rasa penasaran membuatku mendekati
mereka secara perlahan, dan menyelinap ke table yang lebih dekat supaya dapat
mendengar pembicaraan serta mengawasi gerak-gerik mereka berdua.
Saat kuawasi, tiba-tiba kulihat istriku berbalik dan mencium
mulut Rian.
Dia melakukannya dengan penuh
nafsu; mulutnya mencari-cari, seperti mengejar lidah Rian agar masuk
ke dalam bibirnya. Darahku kontan terkesiap, apalagi ketika tangan kanan istriku perlahan mulai turun ke selangkangan anak buahku itu dan meremasnya dari luar celana tipis yang Rian kenakan.
Tonjolan di selangkangan Rian memang tidak kelihatan jelas, tetapi dari raut muka lelaki
itu jelas memperlihatkan bahwa birahinya
terpancing oleh tangan nakal istriku yang
memberikan remasan-remasan halus di batang penisnya. Maka
Rian mencoba membalas dengan menyusupkan tangan kanannya ke balik baju istriku meski masih sedikit ada rasa ragu.
Ketika dilihat tidak ada penolakan, barulah ia berusaha masuk lebih jauh melalui sela-sela bra merah yang istriku kenakan. Napasku serasa berhenti manakala Rian mulai meremas-remas buah dada istriku. Walau dalam remang, tetapi jarak yang cukup dekat sanggup memberikanku penglihatan yang teramat jelas akan gerak-gerik
mereka berdua. Di saat istriku akan memasukkan
tangannya ke balik celana Rian, mendadak suara musik berhenti dan beberapa lampu
menyala. Kaget, mereka segera melepaskan pelukan. Sementara aku dengan perlahan-lahan melangkah meninggalkan tempat itu untuk kembali ke tableku.
Kutunggu beberapa menit, dan kulihat mereka berdua
berjalan beriringan bergabung kembali
denganku.
“Dari mana, Mam?” tanyaku memancing.
”Habis ngajak Rian Joget, nggak apa-apa kan?” kilah istriku tanpa merasa bersalah.
“Ohh,” jawabku berpura-pura tidak tahu, dan akupun berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaan curiga.
”Kita semua mabuk. Daripada pulang berbahaya, bagaimana kalau kita nginap di sini saja?” usul istriku.
“Terus Rian,
gimana?” tanyaku.
“Ya buka aja dua kamar,.tapi yang connect..biar kita bisa lanjutkan minum,” istriku
meneruskan.
Akhirnya karena aku sendiri pun sudah mabuk berat, maka aku setuju saja dengan usulnya. Kejadian di Pub yang kulihat antara Rian dan istriku mulai
terhapus oleh pengaruh alkohol di kepalaku, tanpa keberatan aku pun check in di dua kamar yang dihubungkan oleh connecting door.
Rian tidak segera ke kamarnya, melainkan bergabung denganku
melanjutkan minum-minum di sofa yang ada di kamarku. Suasana
sudah sangat berbeda dengan saat kedatangannya sore tadi, Rian sudah mulai
berani mengucapkan bahasa-bahasa jorok, juga
bercerita tentang hubungan seks antara dia dan pacarnya secara detail kepadaku, dan anehnya aku pun tidak merasa terganggu dengan perubahan ini. Aku malah tertawa dan ikut bercerita tentang permainan seks
kami berdua, sementara istriku hanya menggigit bibirnya menahan birahi.
Entah  jam berapa saat
aku tertidur, namun  jam di tanganku menunjukkan pukul 02:35 dini hari saat aku terbangun kembali di sofa tempat kami minum. Istriku tidak lagi ada di sebelahku. Kupejamkan mataku mencoba menguasai
diri, pengaruh alkohol masih sangat kuat terasa. Aku berdiri dengan sempoyongan menuju ke tempat tidur hendak menyusul istriku.
Tapi aku tersadar bahwa ternyata istriku tidak berada di situ. Aku sama sekali tidak bisa berpikir, yang ada di otakku mungkin istriku sedang mengobrol dengan
Rian. Aku pun mendatangi kamar Rian lewat conecting door, tapi langkahku terhenti ketika sayup-sayup kudengar erangan seorang lelaki " “Ohh… enak… terus, sayang… ohh…”
Suara itu jelas suara Rian dari kamar sebelah. Aku semakin penasaran, kubuka pintu yang tak terkunci secara perlahan sampai aku bisa melihat dengan jelas… dan
terpampanglan di depanku satu pemandangan yang sangat mengejutkan.
Disela-sela erangan Rian, tampak istriku tengah menggunakan kedua tangannya sebagai penopang tubuhnya yang sintal. Ia mengangkang di atas kepala Rian dalam posisi 69, dengan kepalanya bergerak
naik-turun mengoral kontol Rian. Suara decak lidah yang beradu dengan kontol  bercampur
erangan Rian yang  menikmati oral
mulut istriku yang aku tahu sangat mahir melakukannya, terdengar memenuhi seluruh sudut kamar.
Mungkin  mereka telah
menghabiskan seluruh minuman yang ada, karena kedua sejoli itu jelas mabuk

parah. ini terbukti dari raut wajah keduanya serta ketidakpedulian mereka akan
kehadiranku yang mengintip melalui pintu yang terbuka sejengkal. Pakaian
mereka berserakan di lantai, tinggal CD hitam yang masih dikenakan istriku. Sedangkan Rian sudah telanjang bulat dengan kontol besar dan panjang yang tampak mengacung tegang ke
atas. Aku tertegun melihat
pemandangan itu, diam-diam kuambil Handphone milikku dan mulai merekam adegan
tersebut.
”Sedot, sayang… ohh,” Rian melenguh.
Istriku terus mengemut kontolnya sementara
Rian menyingkapkan celana dalam yang masih dikenakan istriku ke
samping dan memasukkan jari telunjuk serta jari tengahnya ke lobang vagina mungil yang nampak disana. Sambil mulai mengocok,

terkadang tangan kiri Rian meraih tetek istriku yang
bergelantungan indah dan meremas-remasnya dengan penuh nafsu. Sementara istriku sesekali
melepaskan kontol Rian dari mulutnya dan merintih menikmati kocokan jari laki-laki itu di liang vaginanya dengan wajah merah menengadah serta mulut terbuka.
“Ohhh… ayo, Rian! Puaskan aku!” guman istriku. Tampak
keduanya sangat bernafsu.
Rian segera menarik celana dalam istriku dengan kedua tangannya dan
memelorotkannya dalam
satu kali sentuhan sehingga tidak ada lagi
kain yang menutupi badan istriku. Melihatnya, birahiku pun mulai bangkit.
Kubuka celana sehingga kontolku yang tak
kalah besar dengan milik Rian langsung melonjak keluar dalam keadaan tegang. Perlahan tangan kiriku mengocok-ngocoknya dengan
tetap merekam adegan panas yang tengah mereka berdua lakukan.
Tak kuat menahan rangsangan, istriku melepaskan kontol Rian dari mulutnya dan berputar searah kepala laki-laki itu. Rian menyambut
dengan menarik kedua tangan istriku
serta memeluknya dalam posisi duduk di atas paha. Istriku mengangkat pantatnya dan meraih kontol Rian, pelan ia mengarahkan benda panjang itu ke lubang vaginanya yang telah sangat siap, sebelum selanjutnya
menurunkan pantatnya secara
perlahan sehingga kontol Rian amblas masuk seluruhnya ke celah mungil yang nampak di sana.
“Auwh…” menjerit sebentar, sepertinya
karena kaget sekaligus juga keenakan,

istriku
mulai bergerak naik-turun dan maju-mundur sehingga kontol Rian tampak keluar masuk di dalam memeknya.
Sesekali istriku melakukan gerakan
memutar hingga membuat Rian gelagapan menahan nikmat di batang kontolnya.
Sementara istriku pun
merasakan kenikmatan yang tiada tara akibat sodokan kontol Rian yang besar dan panjang. Dia mulai mengerang tak karuan, “Ohh… ohh… ohh… sodok terus! Hmhh… enaak… mmh… aduh memekku… mmh… gila! Oohh… yang dalem… mmh…”
Kulihat
klitorisnya bergesekan dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di atas pangkal kontol Rian sehingga menambah kenikmatan yang
luar biasa.

Rian menyambut gerakan pantat istriku dengan mengikuti goyangannya, sambil kedua tangannya meremas belahan pantat istriku, sedang mulutnya menghisap
buah dada istriku bergantian.
“Mmhhh… goyang, Sayang… rasakan keperkasaan kontolku!” guman Rian di telinga istriku, membuat
istriku semakin bernafsu dan menambah kecepatan goyangannya. Kadang sambil berbisik, Rian melumat telinga
istriku yang membuatnya menggelinjang keenakan.
Hal ini berlangsung beberapa lama sampai akhirnya tiba-tiba kulihat tubuh istriku mengejang, kedua tangannya menjambak rambut
Rian dan kedua buah dadanya dibusungkan jauh ke depan. Dengan gigi hampir
terkatup rapat, ia pun menjerit panjang, ”Ohhhh… a-aku… Ke-kelu…aaa…arrghh!!”
Kemudian tubuh istriku rubuh seperti kain tertiup angin di
sebelah Rian.

Sebenarnya aku sudah sangat terangsang saat itu, tetapi sensasi yang kudapatkan ketika melihat istriku
disetubuhi Rian, membuatku mengurungkan niat untuk menghampiri mereka. Mataku tak berkedip melihat adegan demi adegan dari keduanya yang masih terus
berlangsung.

Rian tampak tak mau lama-lama membiarkan istriku beristirahat. Diraihnya kembali pinggang istriku dan dibaliknya, lalu
diangkat sehingga posisi tubuh istriku menjadi menungging.
Dengan kedua lutut bertumpu pada kasur, Rian mengarahkan kontolnya ke
vagina istriku.

“Aughh…!!” istriku menjerit pelan ketika kontol Rian yang
perkasa kembali memasuki liang vaginanya.
Rian menyodok vagina istriku dari belakang dengan gerakan
maju-mundur cepat,
“Plok… plok… plok…!!” Suara beradunya paha dan pantat menambah panas suasana malam yang dingin itu.
Terkadang Rian membungkuk dan meraih buah dada istriku lalu
diremasnya sambil membenamkan kontol sedalam-dalamnya ke vagina istriku. Perbuatannya itu kontan membuat birahi istriku bangkit kembali dengan sangat cepat, tangan kirinya segera dijulurkan ke belakang untuk meremas buah pelir Rian. Aku yang melihat tentu semakin tak tahan, akhirnya kuputuskan untuk
menghampiri mereka setelah sebelumnya meletakkan HP ke dalam gelas dan mengarahkan kameranya ke tempat adegan
berlangsung.
Rian dan istriku terkesima melihat kehadiranku. Rian menghentikan gerakannya sejenak dalam
keadaan kontol masih tertanam
dalam vagina sempit istriku, sementara wajah istriku pucat pasi ketakutan. Tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya.

 Di saat
mereka masih terdiam kebingungan, kutegaskan kedatanganku sengan menjambak rambut istriku dan membenamkan kontolku dalam-dalam ke mulutnya.
“Isep!” perintahku tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk membantah.
Terpaksa istriku mengoral kontolku dengan sesekali memandangku takut-takut. Rian masih nampak kebingungan, tetapi perlahan-lahan kembali melakukan gerakan maju-mundur menyodok vagina istriku. Namun gerakannya lebih pelan, tidak seberingas tadi saat aku belum bergabung.
Aku yakin dalam hati mereka berkecamuk berbagai pikiran. Istriku berkali-kali mengeluarkan kontolku
dari mulutnya dan berkata lirih, “Maafin aku ya?”
Tapi aku langsung menyodorkan kembali kontolku ke mulutnya tanpa
mengeluarkan sepatah kata pun… sampai akhirnya Rian mengalami orgasme dengan melolong panjang, ”Ooohhhhh…!!” Tampak pantatnya menekan kuat sehingga kontolnya yang panjang amblas masuk ke dalam vagina istriku dan menyemprotkan sperma yang kental berkali-kali hingga habis
tak bersisa.
Setelah Rian mendapatkan orgasmenya, istriku ganti mengambil alih posisi. Dia naik ke atasku dan mulai
mengocok penisku dengan vaginanya dalam posisi duduk, tampaknya dia ingin memberikan kepuasan kepadaku. Gerakannya yang binal
dan penuh nafsu membuatku merasakan kenikmatan yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Di
sebelah, kulirik Rian yang termenung dengan wajah ketakutan. Kunikmati rasa penyesalannya sampai akhirnya istriku mendapatkan orgasme keduanya bersamaan dengan
semprotan spermaku di liang vaginanya yang menjadi semprotan  kedua malam itu…
***
Jam delapan pagi kami semua telah terbangun, Tak ada sepatah
kata pun keluar dari mulut Rian, tapi istriku berulang kali meminta maaf kepadaku, padahal aku sudah menjawab kalau aku memaafkannya. Suasana baru mencair setelah aku bicara kepada mereka berdua bahwa aku
tidak mempermasalahkan kejadian semalam.
Para pembaca sekalian…kisah di atas benar-benar terjadi, tetapi dengan alasan privacy, saya sengaja memodifikasi nama pelaku dan nama kota. Aku dan istriku terkadang
masih melakukan seks threesome dengan Rian, terkadang Rian juga membawa teman wanitanya untuk bergabung bersama  kami, dan keadaan itu berlanjut sampai
sekarang…

SELESAI